Minggu, 08 Mei 2016

Sahabat Jadi Cinta

Sudah hampir 4 tahun berlalu sejak kelulusan SMA, sudah berapa hati yang Wina singgahi namun tidak pernah mampu dipertahankan. 'Entah apa yang kurasakan saat ini', pikir Wina dalam hati.
Wina Arinda Hadi, gadis berusia 24 tahun yang kini bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan swasta ini adalah gadis yang periang, manja, namun memiliki pemikiran yang sangat dewasa.
Wina adalah alumni dari SMA Persada, salah satu SMA swasta terbaik di kotanya.

Pagi ini Wina sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Seperti biasa, Wina selalu mengecek ulang setiap barang bawaan yang akan dibawanya ke kantor. Sementara itu, Mami Wina sedang menyiapkan sarapan untuk putri sulungnya itu. Di meja makan, Papi Wina sedang membaca koran dan adik Wina,- Aga - sedang memakai dasi seragam sekolahnya. Tak lama kemudian, Wina turun menuju meja makan.

"Pagi, Mam, Pap," sapa Wina sambil duduk di kursinya. Papi hanya mengangguk karena sedang serius membaca berita pagi di koran. Sedangkan Mami yang sudah selesai menyiapkan sarapan langsung ikut duduk di kursi meja makan.

"Kak, gue nebeng lo ya, motor gue masih di bengkel," kata Aga.
"Iya," jawab Wina singkat. Wina sedang asik mengecek smartphone nya. Sedang mengupdate beberapa media sosial yang digunakannya. Tiba-tiba, line messengernya memberikan notifikasi bahwa ada pesan yang masuk. Wina kemudian membuka pesan tersebut dan terkejut dengan nama pengirim pesan yang tertera. 'Juan!tumben dia nge-line gue', pikir Wina.

"Kak, udah ayo sarapan dulu," kata Mami yang mulai menyendokkan nasi goreng ke piring Papi, kemudian ke piring Wina dan Aga, dan terakhir ke piringnya sendiri. Papi melipat rapi koran yang tadi dibacanya, kemudian meminum teh yang sudah disiapkan oleh Mami. Aga juga sudah mulai memakan nasi gorengnya. Wina pun menyimpan smartphonenya di saku blazer yang dikenakannya- tanpa membalas pesan dari Juan- dan mulai menyantap nasi goreng di piringnya. Sarapan pagi ini seperti biasa, tenang dan tanpa banyak percakapan.

******
Sementara itu, jauh dari kediaman Wina, di sebuah ruangan di gedung perkantoran, sedang duduk seorang pria yang masih mengecek smartphone miliknya, membuka line messenger kemudian menutupnya kembali. Juan masih menunggu Wina membalas pesan yang tadi dikirim olehnya. Tak lama kemudian, smartphonenya berbunyi memberikan notifikasi bahwa ada line messenger yang masuk.

Wina Arinda Hadi
hai Ju, sorry gue baru bales, tadi lagi prepare ke kantor.
lo apakabar??udah lama banget gak ketemu ya :)

Juan tersenyum, hampir saja dia melompat kegirangan karena terlalu senang mendapat balasan pesan dari Wina. Juan adalah teman sekolah Wina ketika di SMA. Mereka tidak terlalu dekat, namun pernah beberapa kali Wina ikut pulang sekolah bersama Juan. Setelah kelulusan pun, Juan pernah beberapa kali mengajak Wina pergi untuk hang out. Juan memiliki perasaan pada Wina sejak lama, sejak masih duduk di bangku SMA. Sejak Wina pindah ke sekolahnya. Namun Wina tidak pernah menyadari pehatian Juan yang lebih terhadapnya.
Juan mulai memainkan jemarinya, menyentuh layar smartphonenya untuk membalas pesan dari Wina.

******
Wina baru sampai dikantor, ketika ponselnya berbunyi memberikan notifikasi line messenger. Wina tahu pasti itu balasan pesan dari Juan. Sebelum membacanya, Wina membereskan dulu meja ruangannya. Wina mulai melakukan ritual awal yang biasa dilakukannya sebelum memulai pekerjaan, kemudian Wina mengecek beberapa email yang masuk, mengecek jadwal meeting bosnya pada hari ini dan menuliskan di selembar memo yang kemudian di tempelnya di buku schedule  miliknya. Setelah selesai, Wina mengambil ponsel dari saku blazernya sambil berjalan menuju cafetaria kantor. Jam tangan Wina masih menunjukkan pukul setengah 8 pagi, sedangkan jam masuk kantor adalah jam 8. Wina memang suka berangkat pagi-pagi agar terhindar dari macet, selain itu dia memiliki waktu lebih untuk sekedar mengobrol sambil minum kopi di cafetaria. Sampai di cafetaria, hanya ada beberapa orang yang duduk sambil minum kopi disana. Wina mengambil posisi duduk di meja yang dekat dengan kaca, kemudian Wina memesan cappucinno  hangat. Tak lama setelah memesan, pesanan Wina sudah datang. Wina mulai meminum cappucinno  yang tadi dipesannya. Wina teringat kembali bahwa dirinya belum membaca pesan dari Juan.

Juan
gue baik Win, elo tuh apa kabar?kemana aja sih ngilang mulu.
kapan nih hang out bareng lagi?

Wina tersenyum, sambil meminum lagi cappucinno-nya Wina mulai terlibat chatting dengan Juan.

Wina Arinda Hadi
hahaha dasar lo, gue gak ngilang cuman sibuk kerja aja.
ayo deh kapan lo atur waktu, gue sih ikut aja.

Juan
malem ini free gak lo?

Wina terdiam, perasaannya tiba-tiba menjadi aneh, lebih tepatnya menjadi aneh kembali. Wina pernah merasakan perasaan seperti ini, tapi dulu sekali. Sekitar 2 tahun yang lalu, ketika Juan mulai sering mengajaknya hang out bersama. Wina bukannya tidak menyadari perhatian Juan terhadapnya. Wina hanya pura-pura tidak menanggapi perhatian Juan itu. Wina tidak ingin hubungan pertemanannya dengan Juan hancur karena Juan memiliki perasaan lebih terhadapnya. Wina tersadar, akhirnya dia membuang jauh-jauh perasaan aneh yang tadi dirasakannya. Wina kemudian membalas pesan dari Juan.

Wina Arinda Hadi
gue free kok Ju, kemana kita??

Juan
entar kita pikirin kemananya, pokonya entar gue jemput lo jam 7 malem ya.

Wina Arinda Hadi
okok, gue tunggu ya.

Juan
oke deh, happy working ya Win, gue lanjut kerja dulu ya.
bye :)

Wina Arinda Hadi
bye, Ju..

Percakapan singkat itu berakhir. Wina mulai memikirkan baju apa yang akan dipakainya nanti. Sambil menyeruput habis cappucinno-nya Wina pun beranjak dari kursi dan menuju kasir untuk membayar. Wina kembali menuju ruangannya. Kantor sudah mulai ramai. Beberapa orang ada yang berkumpul sambil berdiri membicarakan pekerjaan, adapun yang sekedar menggosip. Sebelum sampai ke ruangannya, Wina melihat ruangan bosnya. 'Masih kosong,' pikirnya. Bosnya belum datang, ruangan bosnya berdinding kaca sehingga tampak dari luar. Wina berjalan lagi menuju ruangannya. Tiba-tiba Wina dikejutkan dengan tepukan di bahunya.

"Woyyy, pagiii!!!!". Wina tersentak, benar-benar terkejut.
"Kebiasaan deh lo ngagetin gue, Do. Ntar kalo gue jantungan lo mau tanggung jawab?," omel Wina.
"Cieee, ngambek deh baperrr..," ledek Edo. Wina sampai di depan ruangannya diikuti oleh Edo. Kemudian mereka mengobrol sebentar.
"Tumben lo dateng jam segini, biasanya mepet," sindir Wina.
"Eh,sembarangan lo, gue ini selalu dateng jam segini kali," sangkal Edo sambil menggoda Wina.
"Percaya banget gue, Do, sama lo. Eh lo udah kerjain laporan kemaren yang gue kasih kan? Si bos hari ini ada meeting, gue musti kasih laporan itu ke dia biar dia cek ulang,"tanya Wina. Edo mengeluarkan beberapa dokumen dari tas kerjanya, kemudian mengeluarkan map berwarna orange.
"Nih, non. Udah kelar laporannya, gue kan selalu ontime. Yaudah deh gue ke meja gue dulu ya, byee," Edo melambaikan tangan sambil ngeloyor menuju mejanya. Wina hanya menggelengkan kepala melihat tingkah teman karibnya itu. Wina kemudian masuk ke ruangannya sambil membuka dan membolak-balikkan kertas laporan yang diberikan Edo. Wina mengecek ulang pekerjaan Edo sebelum diberikan kepada bosnya untuk di verifikasi dan ditandatangi. Wina tersenyum kecil. Wina tahu pekerjaan Edo selalu memuaskan, karena Edo adalah orang yang sangat teliti dalam mengerjakan pekerjaannya. Setelah itu Wina menutup kembali map orange itu. Tak lama telepon di mejanya berbunyi. Di lihatnya, ternyata line telepon dari meja Edo. Wina mengangkat telepon itu.

"Hm, apaan?"
"Gimana laporannya, oke kan?" tanya Edo dengan nada agak membanggakan diri dan menggoda.
"Mulai dehhh, sok banggaa, males banget gue," kata Wina. Edo tertawa terbahak-bahak mendengar reaksi Wina.
"Ah elo mah gitu, Win, nggak pernah banget mau muji gue,"
"Iyedeh gue pujiii, ihhh Edo rapi banget sih laporan loooo, " seru Wina dengan nada meledek. Di seberang sana, Edo makin terbahak-bahak mendengar kata-kata Wina.
"Eh, Do, udahan ah kerja lo sana, ini si bos nelpon nih, byee,". Telepon terputus, Edo hanya menggelengkan kepala sambil masih tertawa. Sedangkan Wina sudah online dengan bosnya.

"Iya, Pak?"
"Wina, ke ruangan saya sekarang," kata Pak Bima. Pak Bima adalah bos Wina. Usianya masih sangat muda, mungkin bisa jadi seumuran dengan Wina atau berbeda sekitar satu atau dua tahun dengannya. Beliau adalah penerus ayahnya, pemimpin perusahaan tempat Wina bekerja. Wina sudah bekerja di perusahaan Pak Wijaya - Presdir di kantor Wina, ayahnya Pak Bima - sekitar 3 tahun, sampai setahun yang lalu Pak Wijaya memutuskan untuk pensiun dan menyerahkan perusahaannya kepada anak tunggalnya, Pak Bima.

Wina mengetuk pintu ruangan Pak Bima, sambil membukanya perlahan.

"Masuk, Win," kata Pak Bima sambil terus menatap ke layar laptopnya. Wina melangkah mendekati meja Pak Bima.
"Ini, Pak. Laporan yang kemarin Bapak minta sudah selesai, Pak. Tadi sudah saya cek," kata Wina sambil menyerahkan map orange. Pak Bima mengambil map tersebut, membuka dan mulai mengeceknya.
"Saya suka pekerjaan Edo, selalu rapi dan teliti," kata Pak Bima. Wina hanya tersenyum. Pak Bima kemudian menandatangi berkas itu dan menyerahkan kembali kepada Wina.
"Hari ini jam berapa jadwal meeting saya, Wina?" tanya Pak Bima.
"Jam 10 pagi ini, Pak. Jadwal yang kedua sekitar jam 2 siang, setelah itu Bapak free, karena hanya 2 jadwal meeting hari ini," jelas Wina. Pak Bima hanya mengangguk.
"Baiklah, Pak, kalau begitu saya kembali ke ruangan saya dulu, Pak," izin Wina.
"Iya, silakan, Wina," kata Pak Bima.
"Permisi, Pak,". Wina kembali menuju ruangannya. Memulai rutinitas hari ini seperti biasa. Namun hari ini tidak sesibuk beberapa minggu yang lalu, sehingga Wina bisa agak bersantai sedikit.

*******
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Wina sudah berada di kantor lagi karena meeting pertama hanya berlangsung sekitar 1jam 30 menit. Wina langsung pamit kepada Pak Bima segera setelah merevisi beberapa laporan hasil meeting yang kemudian diserahkan ke Pak Bima. Wina langsung berjalan menuju cafetaria. Selagi berjalan, Wina menelepon Edo.

"Do, lo dimana?Oh, iya ini gue lagi jalan kesitu. Shinta udah lo kontek juga?Iya bawel, ini gue lagi jalan, yaudah bye,". Wina memutus telepon. Sesampainya di cafetaria, Wina mencari-cari dimana teman-temannya. Mata Wina menangkap sekumpulan orang disudut meja dekat kaca yang sedang asyik dan heboh mengobrol. Wina langsung menghampiri mereka.

"Ngomongin gue ya lo pada," kata Wina sambil mengambil minuman milik Shinta.
"Kepedean lo, eh aus buk, emang tadi meeting nggak dikasih minum ye sama bos ganteng," ledek Shinta.
"Sialan, lo,"tukas Wina. "Gue capek tau buru-buru kesini, takut ketinggalan gosip,".
"Win, apa kata bos soal laporan gue?" tanya Edo dengan agak penasaran, walaupun sebenarnya dia tau bahwa laporan nya tadi sudah di cek berulang dan sudah di re-cek juga oleh Wina. Tapi kepuasan dari bos adalah yang paling membanggakan untuk Edo. Sambil masih menyeruput minuman Shinta, Wina hanya mengangkat kedua jempol tangan nya. Edo tersenyum puas.
"Eh, Do, kalo kerjaan lo gini terus gue rasa, lo nanti yang dapet bonus paling gede deh dari si bos ganteng, " ledek Shinta. Serentak mereka berdua langsung tertawa mendengar omongan Shinta.

Pak Bima memang orang yang low-profile, sama seperti ayahnya. Mungkin sudah keturunan, kalo keluarga mereka memang orang yang baik dan rendah hati. Pak Bima juga suka memberi bonus kepada karyawan yang dianggapnya memiliki kredibilitas yang baik dalam mengerjakan pekerjaannya. Dan Pak Bima pun suka mengajak karyawan-karyawan terbaiknya hangout ataupun liburan bersama, atau sekedar family gathering. Bahkan Pak Bima suka mentraktir karyawan-karyawannya dengan membawakan makanan ke kantor.
Hampir semua karyawannya menghormati beliau, walaupun beliau masih tergolong sangat muda, tapi sikap wibawa dan bersahajanyalah yang membuat orang lain makin menghormatinya, termasuk Wina dan teman-temannya.


*******
Jam sudah menunjukkan pukul 16.45, Wina sedang bersiap-siap untuk pulang kantor. Pekerjaannya sudah selesai sejak tadi. Pak Bima juga sudah pulang 5 menit yang lalu. Wina mengambil tasnya kemudian bergegas untuk menuju tempat parkir. Saat sudah di depan lift, Shinta dan Edo datang.

"Winooottt, gue nebeng lo yaaaa," pinta Shinta.
"Woopss, sorry, sorry, nona manis, kali ini lo nebeng Edo dulu ya, gue ada janji dan gue harus buru-buru sebelum gue kejebak macet, okay," kata Wina. Seketika Shinta dan Edo pun saling pandang melihat tingkah sahabatnya itu.
"Lo kenapa?", tanya Edo sambil meletakkan punggung tangannya di dahi Wina. Kemudian Edo melanjutkan kata-katanya, "Nggak panas, kok,". Wina buru-buru menyingkirkan tangan Edo sambil meringis.
"Apaan sih, lo," kata Wina sambil nyengir. Pintu lift sudah terbuka, Wina buru-buru masuk diikuti kedua sahabatnya.

Sesampainya di parking area, mereka berpisah. Wina berjalan menuju mobilnya dan mengeluarkan kunci mobil. Wina kemudian masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya. Dia menunggu sekitar lima menit untuk memanaskan mobilnya sambil menyambungkan koneksi bluetooth dari mobil ke ponselnya untuk mendengarkan lagu. Kemudian Wina mulai menyetel lagu-lagu favorit di playlistnya. Setelah sudah hampir lima menit lebih, Wina mulai menjalankan mobilnya dan bergegas untuk pulang. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 17.10.
'Gue harus cepet nyampe rumah nih,' pikir Wina. 

Jalanan sore hari ini tidak terlalu padat dan tidak terlalu lengang. Namun tetap saja sedikit macet tapi tidak terlalu panjang. Jarak antara rumah Wina dan kantornya tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 30 menit jika ditempuh dengan mobil dan jika tidak terkena macet. Tapi Wina biasanya sampai dirumah sekitar 45menit atau bahkan sampai satu jam jika terkena macet. Karena jalanan hari ini tidak terlalu padat, maka Wina mungkin bisa sampai rumah tepat waktu.

Sekitar 35 menit mengemudi akhirnya Wina sampai dirumah. Wina langsung masuk ke dalam rumah setelah memarkir mobilnya di garasi.
"Assalamu'alaikum, Mam,". Mami sedang menyiapkan makan malam saat Wina menyapanya di dapur.
"Wa'alaikumsalam, Kak. Tumben kamu udah nyampe rumah jam segini, biasa nya malem baru nyampe rumah," tanya Mami sambil mengangkat piring-piring berisi makanan ke meja makan.
"Aku ada janji, Mam," kata Wina singkat sambil mengambil cemilan yang ada di meja makan.
"Janji sama siapa?" tanya Mami lagi.
"Sama...,Juan," kata Wina sambil sedikit menggantung kata-katanya. Mami yang masih sibuk merapikan meja makan kemudian menoleh ke arah Wina dan mengernyitkan kening sambil bertanya penasaran.
"Juan temen SMA kamu?," tanya Mami lagi. Wina hanya nyengir untuk membalas pertanyaan Mami. Setelah itu Wina membalikkan badan dan izin kepada Mami untuk ke kamarnya.
"Aku ke kamar dulu ya, Mam," kata Wina. Mami hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat tingkah anak gadisnya itu.

Jam sudah menunjukkan pukul 18.00, Wina segera mandi dan setelah selesai mandi Wina menyempatkan untuk sholat maghrib terlebih dahulu. Setelah selesai sholat, Wina kemudian mulai merias wajahnya dan mengenakan pakaian yang menurutnya terbaik. Saat Wina sedang menata rambutnya sedikit, ponselnya berbunyi, memberi informasi ada notifikasi line messenger yang masuk. 'Pasti Juan' pikir Wina. Setelah selesai menata rambutnya Wina pun membaca pesan yang masuk.

Juan
win, gue udah otw ya, jalanan gak macet kemungkinan 15 menit lagi gue nyampe rumah lo ya, lo masih tinggal dirumah lama kan?
<Juan sent sticker>

Wina tersenyum melihat stiker line yang dikirim oleh Juan karena Juan sedang meledeknya. Kemudian Wina mulai mengetik kata-kata untuk membalas pesan Juan.

Wina Arinda Hadi
yaiyalaaahh peaaaa, kalo gak udah gue kasih tau dari tadi lah, gila lo haha

Juan
Kiraiiinn..yaudah gue nyetir dulu yaa

Wina tidak membalas lagi pesan Juan. Setelah merasa cukup puas dengan penampilannya malam ini, Wina pun mengambil tas dan mengenakan jam tangan lalu bergegas untuk turun.

"Cieeeee, yang mau pacaran, rapi banget buuuu, kaya mau kondangan," ejek Aga yang melihat kakaknya turun dari tangga. Mami dan Papi spontan langsung menoleh.
"Rese lo," jawab Wina datar.
"Mau kemana kamu, Win?"tanya Papi.
"Dinner, Pap,"
"Loh jadi kamu nggak makan malam di rumah, Kak," tanya Mami.
"Enggalah, Mami ku sayang....."jawab Wina sambil duduk di kursi meja makan.
"Yasudah kalo gitu," kata Mami yang sedang menyiapkan teh untuk Papi. Aga sudah senyum-senyum bersiap untuk mengejek Wina ketika suara bel dari depan berbunyi.
"Cieeee, udah dateng tuh pangeran lo. Mam, Pap, ayo kita tatar dulu, siapa sih pacar kakak gue iniiihhh," ejek Aga lagi dengan tampang sangat puas. Wina mengepalkan tangan kanan nya seraya ingin memukul Aga. Namun akhirnya Wina tidak mempedulikan ejekan Aga dan bergegas menuju pintu depan untuk membukakan pintu. Wina sangat terkejut, Juan datang dan sepertinya banyak perubahan dari diri Juan. Juan terlihat sangat...tampan!

"Eh, masuk dulu, Ju," kata Wina gugup.
"Iya, Win. Mami, Papi sehat?" tanya Juan.
"Sehat, ada tuh di dal..."
"Oh, jadi Mami Papi aja yang ditanyain, gue engga nih bang?" sela Aga yang tiba-tiba sudah muncul di belakang Wina. Wina terkejut dan jadi salah tingkah.
"Ah, parah lo, Ga! Kaget gue tau!" kata Wina kesal. Juan dan Aga malah cengengesan.
"Apa kabar lo, bro?" tanya Juan pada Aga.
"Sehat gue bang, makin sukses aja lo ya bang, ajak gue lah main kapan-kapan. Ayo duduk dulu bang," Aga mengajak Juan ke ruang tamu dan mempersilakan duduk sementara Wina memanggil Mami dan Papi.

Mami dan Papi kemudian datang dan menyapa Juan.
"Eh, ada tamu jauh,"sapa Mami. Juan langsung mencium tangan Mami dan Papi.
"Malam om, tante," Papi dan Mami langsung duduk berhadapan dengan Juan dan Aga. Wina masih di ruang makan untuk mengambil tasnya. Kemudian tak lama Wina muncul sementara Juan sedang mengobrol dengan Mami, Papi, dan Aga.
"Yuk, kita pergi. Entar keburu malem lagi," ajak Wina. Juan pun berdiri kemudian berpamitan kepada Mami dan Papi.
"Tante, Om, Juan ajak Wina pergi dulu ya,"
"Iya, nak. Hati-hati, jangan pulang terlalu malam ya," kata Mami.
"Hati-hati ya nak Juan, jangan ngebut," nasehat Papi.
"Siap, Om, Tante," kata Juan sambil mengangkat tangan kanannya ke dahi seraya hormat. Dan semuanya serentak tertawa melihat tingkah Juan. Dia memang anak yang sangat humoris dan sangat santai pembawaannya. Ada saja tingkahnya yang membuat orang sekitar tertawa.

Setelah berpamitan, Juan dan Wina pun masuk ke mobil Juan dan bersiap untuk pergi.
"Jadi kita kemana, Ju?"tanya Wina.
"Hmmm..Gimana kalo kita makan dulu?Kamu pasti belum makan, kan?" ajak Juan.
"Boleh tuh, trus kita makan dimana?"
"Kita makan seafood, aku yang pilih tempatnya ya," pinta Juan.
"Okedeh, yuk kita berangkat," kata Wina. Juan mulai menyalakan mesin mobil dan menyambungkan bluetooth untuk menyetel musik. Lalu mereka pun berangkat. Di perjalanan mereka terus mengobrol, namun yang membuat Wina agak terganggu adalah kata panggilannya ke Wina yang biasanya 'lo-gue' jadi aku-kamu'.
Wina merasa ada kejanggalan, dan perasaan aneh yang selalu dia rasakan ketika bersama Juan itu muncul kembali. Wina mencoba mengabaikannya namun semakin Juan berbicara semakin muncul perasaan itu.


Sesampainya di restaurant seafood pilihan Juan, mereka pun memilih meja. Dan mereka memesan beberapa makanan. Mereka asyik mengobrol sampai makanan pun akhirnya dihidangkan. Mereka mulai memakan makanan pesanan mereka. Wina tidak merasa canggung dihadapan Juan, begitupun sebaliknya. Karena mereka merasa sudah berteman sejak lama. Setelah selesai makan malam, mereka memutuskan untuk mengobrol sebentar.

"Jadi abis ini kita kemana nih?,"tanya Wina.
"Karaokean yuk," ajak Juan. Juan memiliki suara yang bagus menurut Wina, atau memang suara Juan tergolong bagus. Namun tidak dengan Wina, suara Wina sangat standart, namun Wina sangat suka pergi karaoke.
"Ayok deh, udah lama juga gue gak test vokal," kata Wina sambil tertawa.
"Hahaha, oke deh, kalo gitu kita pergi sekarang aja, biar nggak kemaleman," ajak Juan. Juan pun memanggil waiters untuk meminta bill, lalu Juan membayar tagihan makan malam mereka. Wina melihat Juan sudah berubah, seperti nya sekarang Juan sudah bekerja. Karena yang Wina tau dulu Juan itu sangat suka game online, dan mungkin sampai sekarang Juan juga masih menyukai game online. Dan terkadang waktu Juan itu terlalu disia-siakan untuk game online.

"Let's go," ajak Juan. Wina mengambil tas dan mereka beranjak dari kursi untuk segera pergi menuju tempat karaoke. Jalanan cukup padat, namun tidak sampai macet total. Dan karena ada tempat karaoke yang tidak terlalu jauh dari restaurant tempat mereka makan, mereka pun tidak terjebak macet. 

Sesampainya di tempat karaoke, Juan pun memesan room dan mengambil paket 2 jam untuk karaoke. Setelah itu mereka menuju room yang sudah mereka pesan. Setelah dinyalakan dan di stel seluruh perlengkapan untuk karaoke oleh waiter, mereka pun mulai memilih lagu.

"Eh mau nyanyi lagu apa, neng?," tanya Juan.
"Elo dulu deh, Ju, gue jadi juri dulu, kekenyangan nih gue, hehehe, " kata Wina beralasan.
"Oke, gue pilih lagu ini, Jaga Hatiku - Sammy Simorangkir ,play, " kata Juan. Juan mulai menyanyi. Suara Juan memang sangat bagus apalagi kalau menyanyikan lagu dari Kerispatih atau Sammy Simorangkir. Tiba-tiba Wina menjadi